Kamis, 27 Juni 2013

Untuk Tuan (Demi Negeri)

ribuan pantai yang indah 
alam bebas penuh pesona
negeri paling kaya sedunia

INDONESIA

begitu mereka sebut negeriku
untaian mutiara di garis katulistiwa
ribuan ras dan budaya
senantiasa menghiasinya

mana? kemana perginya?
semua kekayaan pada negeriku
ketentraman yang harusnya kita dapatkan
negeri makmur idaman setiap manusia

siapa? siapa yang lakukan semuanya?
perusakan alam
adu domba sesama bangsa
pembunuhan massal rakyat jelata

aku menangis
menangis sejadi jadinya
meratapi semua yang terjadi diatas tanah airku
kini kebencian merajai setiap hati
dimana nasionalisme kita?
dimana kau sembunyikan tuan?

sudah lama negeriku bergelayut di bawah kaki asing
menentukan nasib dengan utang negara
mau sampai kapan?

kali ini aku benar benar marah !
kepada semua ketidak adilan
kepada ideologi kami yang di jungkir balikkan
kepada cita cita negeri yang kini pudar
tapi apa dayaku?
aku hanya seorang pelajar
yang takkan mampu memimpin negeri ini
dengan tanganku sendiri

tuan..
tolong beri kami pemimpin budiman
beri kami pemimpin yang jujur
beri kami pemimpin yang adil dan berani
beri kami pemimpin demokratis

agar negeri ini bisa berdiri di kaki kami sendiri

INDONESIA

kau tanah airku, aku bangga hidup diatas tanahmu


Renungan

tlah lama aku terpuruk disini
lembah gelap yang mengerikan
dihuni hewan buas haus darah
yang kapan pun siap menerkam

mengais sisa sisa tenagaku
terpuruk, remuk
tuk berdiripun takkan sanggup

tlah lama kunikmati kepedihan 
aku beringas!
mengingat semua yang kulalui
hidupku memang keras

aku tebaring di sisa kehidupanku
menyertakanya dalam lembaran tulisan baru
ya ! aku bisa bangkit
dan memang harusnya begitu

kukumpulkan kembali batu batu kali
akan kubuat pondasi lagi
kubangun lagi semua yang sudah terjadi
inilah aku dan ini pondasi hidupku

kuingat kata yang dibisikkan pada telingaku
yang akan slalu membakar jiwa 
untuk terus melaju
maju dan terus maju
karna hidup ini takkan pernah ada ujung

hanya pintu kematian
yang mampu hentikanku

disni akan kumulai kembali
hidupku yang sekian lama mati

Jumat, 14 Juni 2013

Surat Untuk Pak Tua

Bernyanyi di bawah gubuk beratap usang
Gemetar tangan petikkan melodi
Pada teman putih dan hitammu
Pada lembar lembar kertas yang terlentang di atas meja
Menyayat kata kata indah bertahta
Yang bagi mereka tak bermakna

Senja tlah datang di hidupmu
Badan yang habis kurus dimangsa waktu
Kecut kehidupan menjejali kehidupan
Ya.. usiamu tak muda lagi pak tua
namun semangat dan tekad kuat membara di dadamu

Sengsara nasibmu tak ku lupa
Kata bermaknamu mengisi rongga jiwa
menjadikannya taman bunga penuh pesona

Bungaku tlah tumbuh pak tua
yang lalu kau siram dengan keringatmu
kau rawat bagai anakmu sendiri
Tapi..
Bungamu layu sekian lama
di makan waktu dan gejolak muda
Tapi tetap saja, kau yang pertama ajarkanku
tuliskan bait bait curahan jiwaku

Pak tua, saat ini banyak puisi muda
puisi penuh luapan jiwa
namun tanpa makna dan keindahan kata
mungkin mereka lupa siapa dirimu Pak Tua
apa dirimu juga lupa siapa engkau?

kau adalah inspirasiku
semngatmu
makna tulisanmu
rumit bahasamu
sayang kini kau tlah tiada..
Chairil Anwar

Selasa, 11 Juni 2013

Sajak Hujan

Nada indah beruntun terurai
dari atap yang tak kokoh lagi
memecah keheningan malam
merasuki jiwa dan pikiran

beratus, beribu, berjuta
titik air berlomba menghajar wajah bumi
memaksanya basah dan lembab
berkah bagi tanah dan kehidupan

sorak sorai dedaunan , melambai
tampakkan kegirangan hati
"aku gembira karna basah!"
pekiknya di malam itu

sementara aku terlelap
udara dingin memelukku
memastikan esok penuh harap
tumbuhan bersemi riang menari
esok hari..

sisi gelap juga tak luput dari sisinya
banjir dan longsor mewabah
merendam kaki di bawah atap
usang dan rusak

mereka mengeluh
hal yang harusnya tak dikeluhkan
"bukan salah hujan ! ini salah kita!"
teriakku dalam hati

ada baik ada buruk
itulah kehidupan
hujanku gembira, hujanku bencana

Ungaran tengah malam, 11 Juni 2013