Perang dunia ke dua belum usai dari negeriku. gejolak semangat pemuda membara dalam setiap diri perwira. termasuk juga aku, letnan Bayu yang bertugas mengamankan Kapten Darmo pada waktu itu. banyak sudah pahit manis cerita kulewati dengan "Harimau" ini. kupertaruhkan nyawa demi keselamatannya.
Dan begitulah kisahku bermula.
Malam ini kami telah sampai di ujung Yogyakarta. sebuah desa kecil bernama Tarwosono. kami hanya pasukan kecil yang di isi tidak lebih dari 12 orang. berusaha bergerak ke Semarang untuk menyampaikan pesan kepada para prajurit di Ambarawa. ya memang, pasukan kami hanya segelintir orang, namun mereka semua terlatih dan memiliki kemampuan melebihi pasukan biasa. Dari Yogyakarta kami diperintahkan oleh Jenderal Soedirman yang mahsyur itu. langkah kami semakin jauh meninggalkan Yogyakarta dan kami pun menginjakkan kaki di Magelang. belum ada jalan aspal disini, hanya jalan tanah becek yang dikerumuni pohon besar nan rindang. "kita beristirahat disini sejenak" ucap Pak Darmo melihat teman kami sedang sakit.
Radio kami hidupkan untuk menerima komando lebih lanjut, tapi sepertinya radio kami tak bisa digunakan lagi. Mungkin rusak ketika kami terseok seok di tengah hutan malam lalu. "Bagaimana ini pak darmo?" tanyaku panik. "tidak apa, kita masih bisa melanjutkan perjalanan dengan Tuhan yang melindungi kita" jawabnya sambil tersenyum. entah bagaimana caranya, pak darmo selalu bisa membuat kami tenang dan merasa aman. kepercayaannya tentang kemerdekaan begitu kuat. Bahkan saya pernah ditampar beliau ketika saya meragukan kemerdekaan.
Kira kira pukul 01.00 kami mulai berjalan kembali, menyusuri hutan yang belum pernah kami jelajahi sebelumnya. kami berjalan tanpa ada penerangan apapun, untuk keamanan kami sendiri. langkah kami semakin cepat ketika kami melihat cahaya dari kejauhan. semakin dekat dan semakin dekat menghampiri kami. secepat mungkin kami bersembunyi dibalik semak dan pepohonan. ternyata dugaan kami benar, pasukan penjajah. jumlah mereka banyak, mungkin sangat banyak karena masih ada cahaya terlihat di kejauhan. jarak kami dengan pasukan musuh hanya 20 m saja. "pak darmo apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang perwira. " kita pancing mereka, kemungkinan mereka tersesat. aku yakin tujuan mereka sama dengan kita" ucap pak darmo memberi komando." tarik mereka jauh dari ambarawa " imbuhnya. kami mundur barang beberapa meter dari tempat persebunyian tadi. "Bayu" pak darmo memanggil. sayapun segera datang mendekat. "kamu bisa pimpin pasukan?" beliau bertanya, dan kujawab dengan anggukan tanda mampu. "aku, Yadi, dan Latief akan memancing mereka, kalian bergegaslah menuju ambarawa, kita akan bertemu disana" jelas pak darmo. "tapi pak?" "sudah, tidak ada tapi tapian, ini perintah, lagipula Yadi dan Latief prajurit yang bisa diandalkan, cepat kamu bawa yang lain pergi dari sini " . aku tidak bisa mengelak, berat hati kutinggalkan pak darmo yang seharusnya aku lindungi. kami pun bergegas melangkah menuju ambarawa.tidak lama kemudian terdengar suara ledakan dan baku tembak menyalami telinga kami. tapi kami tetap maju, karena kami yakin, pak darmo adalah kapten yang tangguh.
Setibanya kami di ambarawa, kami laporkan apa yang terjadi. perang sengit kami hadapi di Ambarawa . namun akhirnya kami berhasil memukul mundur penjajah ke semarang. setelah pertempuran di semarang, kami melanjutkan bergerilya dengan 9 orang dalam pasukan. kami hancurkan gudang gudang senjata milik belanda dan jepang, seperti yang pak darmo ajarkan. Namun kami belum bertemu pak darmo sejak malam itu. kami selalu berdoa dan berharap beliau baik baik saja.
Pagi tanggal 17 Agustus 1945 kami semua mendengar Radio bahwa negara kami telah merdeka. malam itu juga kami mencari pak darmo ke Magelang. kami berangkat dari Temanggung, sangat dekat dengan Magelang, hanya butuh waktu 1 malam untuk sampai di magelang. kami menanyakan kesana kemari tentang pak darmo , namun kami belum menemukan apapun.
Tanggal 15 September 1945, kami mendatangi sebuah benteng belanda yang rusak. disana kami menemukan 3 mayat yang hampir tinggal tulang terpasung dalam reruntuhan benteng tersebut. mayat mayat yang sudah membusuk itu masih mengenakan pakaian komplit perwira Indonesia. pada dada kanan salah satu mayat itu tertulis "DARMO" . kami menangis sejadi jadinya. Seorang perwira yang tangguh mati mengenaskan tanpa diketahui. kudekap mayat pak darmo dan kukatakan " Kita sudah merdeka pak, negara kita sudah merdeka". namun pak darmo pun tak mau bangun, karna beliau benar benar sudah tak bernyawa. seorang pahlawan sejati yang gugur dan terbaikan.