Selasa, 08 Juli 2014

(Cerpen) Pahlawan Terabaikan

              Perang dunia ke dua belum usai dari negeriku. gejolak semangat pemuda membara dalam setiap diri perwira. termasuk juga aku, letnan Bayu yang bertugas mengamankan Kapten Darmo pada waktu itu. banyak sudah pahit manis cerita kulewati dengan "Harimau" ini. kupertaruhkan nyawa demi keselamatannya.
Dan begitulah kisahku bermula.
             Malam ini kami telah sampai di ujung Yogyakarta. sebuah desa kecil bernama Tarwosono. kami hanya pasukan kecil yang di isi tidak lebih dari 12 orang. berusaha bergerak ke Semarang untuk menyampaikan pesan kepada para prajurit di Ambarawa. ya memang, pasukan kami hanya segelintir orang, namun mereka semua terlatih dan memiliki kemampuan melebihi pasukan biasa. Dari Yogyakarta kami diperintahkan oleh Jenderal Soedirman yang mahsyur itu. langkah kami semakin jauh meninggalkan Yogyakarta dan kami pun menginjakkan kaki di Magelang. belum ada jalan aspal disini, hanya jalan tanah becek yang dikerumuni pohon besar nan rindang. "kita beristirahat disini sejenak" ucap Pak Darmo melihat teman kami sedang sakit.
            Radio kami hidupkan untuk menerima komando lebih lanjut, tapi sepertinya radio kami tak bisa digunakan lagi. Mungkin rusak ketika kami terseok seok di tengah hutan malam lalu. "Bagaimana ini pak darmo?" tanyaku panik. "tidak apa, kita masih bisa melanjutkan perjalanan dengan Tuhan yang melindungi kita" jawabnya sambil tersenyum. entah bagaimana caranya, pak darmo selalu bisa membuat kami tenang dan merasa aman. kepercayaannya tentang kemerdekaan begitu kuat. Bahkan saya pernah ditampar beliau ketika saya meragukan kemerdekaan.
             Kira kira pukul 01.00 kami mulai berjalan kembali, menyusuri hutan yang belum pernah kami jelajahi sebelumnya. kami berjalan tanpa ada penerangan apapun, untuk keamanan kami sendiri. langkah kami semakin cepat ketika kami melihat cahaya dari kejauhan. semakin dekat dan semakin dekat menghampiri  kami. secepat mungkin kami bersembunyi dibalik semak dan pepohonan. ternyata dugaan kami benar, pasukan penjajah. jumlah mereka banyak, mungkin sangat banyak karena masih ada cahaya terlihat di kejauhan. jarak kami dengan pasukan musuh hanya 20 m saja. "pak darmo apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang perwira. " kita pancing mereka, kemungkinan mereka tersesat. aku yakin tujuan mereka sama dengan kita" ucap pak darmo memberi komando." tarik mereka jauh dari ambarawa " imbuhnya. kami mundur barang beberapa meter dari tempat persebunyian tadi. "Bayu" pak darmo memanggil. sayapun segera datang mendekat. "kamu bisa pimpin pasukan?" beliau bertanya, dan kujawab dengan anggukan tanda  mampu. "aku, Yadi, dan Latief akan memancing mereka, kalian bergegaslah menuju ambarawa,  kita akan bertemu disana" jelas pak darmo. "tapi pak?" "sudah, tidak ada tapi tapian, ini perintah, lagipula Yadi dan Latief prajurit yang bisa diandalkan, cepat kamu bawa yang lain pergi dari sini " . aku tidak bisa mengelak, berat hati kutinggalkan pak darmo yang seharusnya aku lindungi. kami pun bergegas melangkah menuju ambarawa.tidak lama kemudian terdengar suara ledakan dan baku tembak menyalami telinga kami. tapi kami tetap maju, karena kami  yakin, pak darmo adalah kapten yang tangguh.
          Setibanya kami di ambarawa, kami laporkan apa yang terjadi. perang sengit kami hadapi di Ambarawa . namun akhirnya kami berhasil memukul mundur penjajah ke semarang. setelah pertempuran di semarang, kami melanjutkan bergerilya dengan 9 orang dalam pasukan. kami hancurkan gudang gudang senjata milik belanda dan jepang, seperti yang pak darmo ajarkan. Namun kami belum bertemu pak darmo sejak malam itu. kami selalu berdoa dan berharap beliau baik baik saja.
            Pagi tanggal 17 Agustus 1945 kami semua mendengar Radio bahwa negara kami telah merdeka. malam itu juga kami mencari pak darmo ke Magelang. kami berangkat dari Temanggung, sangat dekat dengan Magelang, hanya butuh waktu 1 malam untuk sampai di magelang. kami menanyakan kesana kemari tentang pak darmo , namun kami belum menemukan apapun.

            Tanggal 15 September 1945, kami mendatangi sebuah benteng belanda yang rusak. disana kami menemukan 3 mayat yang hampir tinggal tulang terpasung dalam reruntuhan benteng tersebut. mayat mayat yang sudah membusuk itu masih mengenakan pakaian komplit perwira Indonesia. pada dada kanan salah satu mayat itu  tertulis "DARMO" . kami menangis sejadi jadinya. Seorang perwira yang tangguh mati mengenaskan tanpa diketahui. kudekap mayat pak darmo dan kukatakan " Kita sudah merdeka pak, negara kita sudah merdeka". namun pak darmo pun tak mau bangun, karna beliau benar benar sudah tak bernyawa. seorang pahlawan sejati yang gugur dan terbaikan.

Sabtu, 28 Juni 2014

Tarian Jalan

Tarian tarian jalan iringi langkahku
Musik iringan asap kendaraan
Gemercik instrumen anak jalanan
Gejolak  jiwa dalam ratapan

Anak kecil menari jajakan Koran
Tangan pengemis menari menyangga langit
Bersama kuda kuda besi melaju
Tanda iringan makin menderu

Masih kulihat di kejauhan
Tawa bahagia orang pinggiran
Syukuri nikmat kehidupan
Yang makin pahit mereka rasakan

Tuhan, lihatlah hambaMu ini
Yang selalu mengeluh padaMu atas kenikmatan
Cukup segala sandang pangan

hambaMu ini lupakan nikmatmu
sementara jalanan ajarkanku tentangMu

tanpa kurasa senja sambut lamunku
di sela tarian jalan
kuakui kebesaran Mu…


Semangat pagi

Buka matamu kawan
Mentari sapa kita
Celoteh burung bernada manja
Siap cari makan bagi keluarga

Ambil handuk dan sabunmu
Usap liur semalam
Ganti senyum penuh kebahagiaan
Dari wajahmu tersirat harapan

Usap debu di sepatumu
Yang lama terbengkalai tak berguna
Jadikan bersih mengkilat
Pakailah dengan penuh rasa bangga

Masukan bekal dalam tasmu
Lekatkan erat di punggungmu
Hadapi semua rintangan yang tak tentu

Lupakan malam gelap tak berbintang
Lupakan dingin yang menusuk tulang
Biarkan panasnya mentari hangatkanmu
Jangan biarkan malam hancurkanmu

Pengelana

Pengelana pergi jauh
Menyusuri derap kaki asing
Tenggelam Dalam tawa kesedihan
Pengelana,
Ia tak dikenal

Beribu langkah ditempuh
Bungkam rintihan  menyayat perasaan
Tinggalkan tawa dalam kehangatan
Namun tekad tak kunjung hilang
Tegak bersandar dalam jiwa

Lemah kaki berdarah bernanah
Peluh basahi sekujur tubuh
Napas terengah jantung berdegup kencang
Takkan goyahkan jiwanya
Semakin jauh ia melangkah

Pengelana pergi semakin jauh
Kini jiwanya mulai rapuh
Berjalan dalam hening malam
Tanpa arah tujuan

Pahlawan petang

Kala itu hari masih gelap
Terdengar sayup kokokan ayam
Sapu lidi ikut bersahutan
Tanda habisnya malam

Seorang lelaki berpakaian rapi
Menegak kopi hitam buatan istri
Hilangkan ngantuk memulai hari

Di rambutnya tumbuh uban
Di dahinya penuh kerutan
Kantung matanya siratkan kesungguhan
Senyum manisnya tanda keikhlasan

Mega kemerahan merekah dilangit
Adzan maghrib berkumandang
Ia pulang kerumah
Dengan senyum yang tak juga padam

Pengorbanan selalu ia kerjakan
Tak kenal lelah siang dan malam
Disela umurnya yang sudah diujung senja
Tiada henti nafkahi keluarga

Oh iya,
Dia sering dipanggil dengan sebutan “Bapak”